GURU
sepanjang geliat lesu menerjang badai kehidupan sang guru mengejar keabadian pengabdian bagi negeri lewat ucapan harap dan gerakan ibadah adalah sosok ceria menyambut mentari mengantar anak bangsa ini menuju gerbang prestasi dengan sebongkah emosi yang rawan terburai dalam rasa tertahan kesabaran dan cinta kasih yang manis dan hitam pekat selaksa jelaga tercekat dalam kerongkongan hasrat
MARAH
adalah gelinjang tawa mereka yang alpa dan ketidaktahuan yang belia menohok batas amarah mencuat tumpat ke relung hati yang panas membara hingga ke ujung penciuman dan telinga serta pancar sinar mata membakar segala yang tersisa adalah bara api di atas bongkah salju beku hati yang sejuk dan kembali mati
MURID
mata-mata tebelalak dengan sejuta tanya seribu rindu akan jawab yang pasti tentang rahasia dunia nyata dan maya dengan segumpal harap dan dan sekepal hasrat akan kebahagiaan kekal dunia dan sedikit terik memanggang benak yang selalu terputar oleh ragam ketidaksempurnaan alam menjelang mimpi dan menerjang kepalsuan dalam diri
DIAM
bunyi kertas tersapu angin kipas lembut tajam coretan pena menoreh kertas-kertas suci dan bisik-bisik misteri nyata tak mampu mengoyak kesepian menambah pahit dan nyeri perasaan teriris murka dan tertahan dalam jeruji nyali menunggu waktu hingga bunyi lonceng bertalu menggelegar memecah segala yang membatu
TERSIPU
dengan tunduk kelu ciuman syahdu penuh sesal prahara dosa dan pengampunan bersatu dalam langkah lesu menuju kebebasan dan ampunan tak secuil rasa hinggap hingga siang menjelang sapa tawa sang brahma
solosorerintikhujanawalbulankeempattahunini
Selasa, 06 April 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar